Konsep dan prinsip dasar komunikasi kesehatan


Manusia dikenal sebagai zoon politicon, artinya manusia berperan sebagai makhluk sosial dan makhluk politik.[1] Sebagai makhluk sosial, manusia tentu membutuhkan orang lain agar pemenuhan kehidupannya tercapai. Berbagai upaya akan terus ditempuh agar hal tersebut mampu terwujud.

Di zaman sekarang, setiap orang tidak bisa lepas dari ketergantungan satu sama lainnya. Upaya untuk mengisolasi diri dari masyarakat sekitar justru berdampak buruk pada kualitas hidup orang tersebut. Kebutuhan ternyata didasari pada kebutuhan fisik dan kebutuhan psikis. Kebutuhan fisik berupa makanan, minuman, alat-alat, tempat tinggal, pakaian, dan lainnya. Sedangkan kebutuhan psikis meliputi kenyamanan, rasa aman, dan damai. Semua itu tidak dapat tercipta secara otomotis. Butuh beberapa cara agar semua jenis kebutuhan itu terpenuhi. Nah, beberapa upaya yang dilakukan, salah satunya adalah melalui kegiatan komunikasi.
 
Komunikasi merupakan suatu bentuk cara menyampaikan informasi dari satu pihak ke pihak lainnya menggunakan teknologi.[2] Teknologi adalah suatu alat yang diciptakan guna mendukung terlaksananya proses komunikasi dan arus pertukaran informasi. Teknologi ini dapat berupa media-media yang kini dikenal. Mulai dari media elektronik, media cetak, hingga media internet.
 
Media elektronik berupa televisi, radio, billboard, dan lainnya. Sedangkan media cetak meliputi surat kabar, majalah, buletin, jurnal, papan reklame, bahkan hingga selebaran iklan di pohon pinggir jalan. Bentuk lainnya, yaitu internet jauh lebih berkembang. Meliputi youtube, facebook, whatsapp, line, dan aplikasi sejenis lainnya.

Komunikasi dapat pula dinyatakan sebagai upaya mengemukakan gagasan berupa ide atau pendapat dan perasaan kepada orang lain.[3] Ide dapat berupa apapun. Baik itu ide yang benar-benar baru ataupun ide aransemen dari gagasan yang pernah muncul sebelumnya. Ide ini pula yang akan mengantarkan pada lahirnya pendapat berpikir untuk mengkritisi suatu keadaan. Jelas ini merupakan salah satu proses dari pembuatan informasi dan upaya untuk menyampaikannya.

Di era serba digital seperti saat ini, kemampuan komunikasi yang efektif benar-benar diuji. Inilah dasar yang mampu mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Kesuksesan tidak dapat diukur hanya melalui angka-angka pada transkrip nilai. Kesuksesan memiliki makna yang luas ketika membahas terkait kebahagiaan, rasa cukup, hingga hadirnya rasa puas atas pencapaian tersebut. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah semua kesuksesan itu lahir melalui kegiatan komunikasi. Sehingga dibutuhkan landasan dasar sebagai aturan dalam berkomunikasi satu sama lain. Utamanya adalah terkait bahsan prinsip-prinsip berbicara di khalayak ramai.[4]

Lebih jauh, prinsip-prinsip ini kelak yang akan mengontrol jalannya komunikasi sehingga dapat berjalan dengan baik. Prinsip ini pula yang mengatur sikap dari tiap individu yang terlibat dalam komunikasi. Pokok bahasannya adalah upaya agar pemenuhan hak tercapai tanpa melanggar hak orang lain, melalui adanya pembatasan hak berupa kewajiban yang harus dilaksanakan.

Selain prinsip, dibutuhkan pula beberapa bagian penting dalam berkomunikasi. Kelak, istilah ini disebut dengan komponen. Laiknya komponen pada mesin kendaraan, komponen inilah yang menyusun agar keseluruhan sistem mampu berjalan dengan baik. Komponen pula yang menyokong jalannya proses kerja di suatu objek tersebut. Begitu pula komunikasi agar berjalan dengan baik, tentu membutuhkan dukungan dari aspek-aspek penting di dalamnya. Komponen itu dikenal sebagai komponen komunikasi.

Komponen komunikasi meliputi pesan yang dikirimkan dan respon balik dari penerima. Elemennya meliputi pemberi informasi (sender), penerima informasi (receiver), informasi yang disampaikan (message), dan media yang digunakan dalam berkomunikasi (channel). Menilik lebih jauh, maka dapat dilihat bahwa unsur-unsur komunikasi antara lain pengirim, encoding, penerima, decoding, media, pesan, umpan balik, dan gangguan.[5]

Beberapa bentuk komunikasi yang dapat terjadi adalah melalui verbal dan non-verbal. Verbal meliputi oral, komunikasi visual, komunikasi tertulis, dan elektronik. Sedangkan non-verbal meliputi komunikasi gerak tubuh, raut wajah, tatapan mata, dan intonasi bicara.[5]

Salah satu yang berhubungan dengan komunikasi adalah persepsi. Persepsi merupakan suatu bentuk pemahaman atau penafsiran terhadap kondisi tertentu yang didasarkan atas faktor personal.[6] Sehingga dari berbagai pemahaman di atas dapat ditentukan konsep dasar komunikasi. Antara lain, melibatkan sosialisasi, terjadi satu arah/dua arah, informasi yang dipahami dipengaruhi persepsi, terjadi pertukaran informasi, mengandung kode atau ciri tertentu, dan terjadi di suatu ruang dan waktu.

Beranjak menuju komunikasi kesehatan, maka maknanya adalah segala bentuk penyampaian informasi yang berhubungan dengan ruang lingkup kesehatan. Variabel utamanya berupa empati, kontrol, kepercayaan, membuka diri, dan konfirmasi. Empati adalah variabel terpenting dalam memahami kondisi orang lain. Sehinnga mampu membangun hubungan interpersonal yang baik. Kontrol diperlukan agar ada keteraturan dalam proses berkomunikasi dan kepercayaan dibutuhkan agar yakin tentang integritas antar pihak. Membuka diri juga diperlukan agar informasi lebih akurat dan dibutuhkan konfirmasi untuk memastikan kembali keakuratan informasi tersebut.[7]

Dalam pelaksanaanya jelas akan dijumpai berbagai permasalahan. Secara umum, meliputi hambatan fisik, bahasa, psikis, teknis, dan aspek sosial budaya. Sedangkan hambatan akibat kondisi atau latar belakang pasien bisa berupa bahasa, usia, stress, tingkat pemahaman dan latar pendidikan, kebiasaan budaya, serta luas tidaknya interaksi dengan dunia kesehatan.[8]

Pesan kunci

Berdasarkan seluruh rangkaian definisi komunikasi kesehatan, diperoleh konsep umum bahwa komunikasi merupakan kegiatan penting bagi makhluk hidup. Melalui komunikasi akan tercipta pengetahuan akan informasi lain dari luar. Keterbukaan tersebut diatur melalui prinsip komunikasi. Selain itu, ada beberapa komponen yang dibutuhkan agar komunikasi dapat terlaksana. Komunikasi yang dilakukan ternyata beragam jenisnya. Sehingga memungkinkan berbagai alternatif dalam upaya pertukaran informasi.


Referensi
  1. Sumaryono E. Etika & Hukum, Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas. 5th ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2006. p. 243
  2. Communication [internet]. Merriam-Webster’s Learner’s Dictionary [cited 2016 Sep 06]. Available from: www.merriam-webster.com/dictionary/communication
  3. Oxford University Press. Oxford Learner’s Pocket Dictionary New Edition. Fourth Impression. Oxford: Oxford University Press; 2005. p. 81
  4. Communication course [internet]. Cambridge: EdX; [cited 2016 Sep 06]. Available from: www.edx.org/course/subject/communication
  5. Communication Concepts and Process [internet]. In: Communication Skills. Egypt: Pathways to Higher Education; [cited 2016 Sep 07]. Availabe from: www.pathways.cu.edu.eg/donwloads
  6. Adler Ronald B. Understanding Human Communication. 9th ed. New York: Oxford University Press; 2006.
  7. Presentasi Pengantar Mata Kuliah Komunikasi Kesehatan. Disampaikan pada tanggal 1 September 2016 di hadapan mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan UI tahun 2016.
  8. Berry D. Health Communication. New York: Open University Press; 2007.

Tidak ada komentar:

Berilah komentar yang bijaksana tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Diberdayakan oleh Blogger.