Peran Persepsi dalam Hubungan Antarpribadi


Pendahuluan

Sebagian besar orang berpikir bahwa hubungan antarpribadi atau personal relationship adalah sesuatu yang terhubung seperti hubungan emosi. Maksud dari hubungan antarpribadi adalah hubungan erat antara individu dengan individu yang dianggap berarti. Hubungan ini muncul dan diperkuat oleh pengalaman yang sama.[1]

Pada dasarnya, terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu keluarga, teman, dan pasangan. The Bureau of the Census mendefinisikan suatu keluarga sebagai dua orang atau lebih yang terikat oleh hubungan darah, pernikahan, dan adopsi dan tinggal bersama. Keluarga memberikan dukungan, kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan. Pertemanan adalah ikatan kuat antara dua orang yang terbentuk dari kesamaan pengalaman, minat, dan ikatan emosional. Pasangan yang dimaksud adalah hubungan dekat antara dua orang yang terbentuk atas kasih sayang, kepercayaan, dan cinta.[1]

Dari hubungan antarpribadi ini, kebutuhan manusia seperti kasih sayang, kehangatan, dan kebahagiaan akan terpenuhi. Hubungan antarpribadi juga dapat memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk mengatur hidupnya dan memengaruhi orang lain. Dalam hubungan antarpribadi, terdapat peran komunikasi dan persepsi untuk membangun hubungan yang harmonis.[2]

Peran Persepsi dalam Hubungan Antarpribadi

Persepsi berasal dari kata perceptio yang berasal dari kata percipere yang artinya menerima.[3] Persepsi adalah suatu proses penerjemahan suatu rangsangan menjadi pesan bermakna. Ada banyak faktor yang memegaruhi persepsi, antaralain: karakteristik masing-masing individu, karakteristik target, dan situasi. Karakteristik individu yang dimaksud adalah sikap, kepribadian, dan pengalamannya yang memengaruhi bagaimana ia menilai sesuatu.[2] Hal ini berkaitan dengan usia, pekerjaan, lingkungan ia tinggal, dan lain-lain. Karakteristik dari target dinilai dari bagaimana penampilan target dan pembawaan target dalam melakukan interaski atau berhubungan. Situasi yang dimaksud adalah keadaan lingkungan saat itu ia berada, misalnya gaduh, hening, dan lain-lain.[2]

Menilai orang lain sering dilakukan terlalu cepat untuk menyimpulkan sehingga ada banyak faktor lain yang memengaruhi, antara lain:
  1. Persepsi selektif, yaitu menilai sesuatu berdasarkan pengalamannya dan mengeliminasi nilai-nilai yang kurang ia sukai sehingga persepsi yang dihasilkan sesuai dengan keinginannya. Misalnya, seseorang menyukai Justin Bieber, maka apapun yang Justin Bieber lakukan akan terlihat baik di matanya. Ia akan menyampingkan bahkan mengabaikan keburukan Justin Bieber.
  2. Proyeksi, yaitu melihat orang lain seperti dirinya. Seseorang akan menyamakan orang lain dengan dirinya sendiri. Misalnya, orang yang licik akan melihat orang lain sebagai orang yang licik juga.
  3. Stereotip, yaitu menilai seseorang dengan acuan nilai-nilai sosial-budaya atau umum. Misalnya, seseorang menganggap orang India senang menari karena film-film dari India menayangkan aktor dan aktrisnya yang hobi menari.
  4. Halo effect, yaitu menilai seseorang dengan hanya melihat satu hal positif lalu menyimpulkan hal lain sebagai latar belakang seseorang tersebut. Misalnya, seseorang yang memakai kacamata adalah orang yang pandai.[2]
Menurut Kenny, persepsi seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya. Pertama, persepsi dapat berubah jika terjadi interaksi di antara dua individu.[3] Persepsi seseorang tidak akan berubah mengenai baju yang akan dia beli di butik karena baju itu tidak memberikan umpan balik kepadanya. Kedua, setiap orang akan memikirkan bagaimana persepsi orang lain terhadap dirinya karena hal tersebut akan memengaruhi sikap terhadap orang tersebut. Ketiga, setiap orang memproyeksikan dirinya pada orang lain.[3] Hal ini sama seperti poin 2 (proyeksi) yang sudah disebutkan sebelumnya.

Penutup

Berhubungan dengan individu lain merupakan sesuatu yang lazim dalam kehidupan sehari-hari, bahkan selalu ditemukan setiap hari. Seberapa dekat dan seberapa baik hubungan antarpribadi tersebut ditentukan oleh persepsi setiap individu yang terlibat. Terkadang, persepsi yang terbentuk bukanlah persepsi hasil pertimbangan atau penilaian secara keseluruhan. Akan tetapi, persepsi yang terbentuk adalah bentuk kesimpulan cepat yang dipengaruhi pengalaman seseorang.

Referensi

  1. 1. Hathaway K. What do We Mean by Personal Relationship? [internet]. Minesotta: University of Minesotta; unknwon [ updated unknown; cited Mar 10, 2017]. Available from: https://www.takingcharge.csh.umn.edu/enhance-your-wellbeing/relationships/what-do-we-mean-personal-relationships
  2. Unknown. Buku Ajar 2. Depok: Universitas Indonesia; unknown
  3. Berscheid ES, Regan PC. The Psychology of Interpersonal Relationships. New York: Taylor & Francis; 2016.

Tidak ada komentar:

Berilah komentar yang bijaksana tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Diberdayakan oleh Blogger.